AdvertorialSamarinda

Sri Puji Astuti Prihatin Tingginya Kasus HIV di Samarinda, Bayi Ikut Terinfeksi Jadi Sorotan

×

Sri Puji Astuti Prihatin Tingginya Kasus HIV di Samarinda, Bayi Ikut Terinfeksi Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini
Sri Puji Astuti Ketua Pansus IV DPRD Samarinda.

SAMARINDA – Panitia Khusus (Pansus) IV DPRD Kota Samarinda yang membahas Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Penanggulangan Tuberkulosis (TB) dan HIV/AIDS menyoroti tingginya angka kasus HIV di Kota Samarinda yang dinilai masih menjadi persoalan serius.

Ketua Pansus IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, mengatakan berdasarkan paparan yang diterima pihaknya, jumlah kasus HIV di Samarinda telah mencapai lebih dari 4.000 kasus. Namun, dari jumlah tersebut baru sekitar 2.000 orang yang menjalani pengobatan.

“Yang menjadi pertanyaan kami, jumlah kasus HIV di Samarinda sudah lebih dari 4.000, tetapi yang mendapatkan pengobatan baru sekitar 2.000 orang. Lalu 2.000 lainnya bagaimana kondisinya, kemudian yang meninggal berapa orang,” ujarnya, Jumat (26/6/2026)

Ia mengungkapkan, sepanjang tahun 2026 tercatat 26 orang meninggal akibat HIV dan 24 orang meninggal karena TB. Angka tersebut, menurutnya, belum termasuk laporan dari rumah sakit maupun klinik bersalin yang masih terus diperbarui.

Sri Puji juga menaruh perhatian terhadap kasus penularan HIV dari ibu kepada bayi. Menurutnya, pemeriksaan HIV pada ibu hamil sebelum proses persalinan maupun operasi sesar kerap menemukan ibu yang dinyatakan positif HIV, sehingga bayi berisiko tertular apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

“Sebelum melahirkan atau tindakan sesar dilakukan pemeriksaan HIV. Ada beberapa kasus ibunya positif HIV, sehingga bayinya juga berpotensi positif. Kondisi seperti ini tentu menjadi perhatian kita bersama,” katanya.

Ia menegaskan, tujuan utama pembahasan Raperda bukan sekadar menemukan lebih banyak kasus baru, melainkan memastikan penderita segera memperoleh pengobatan sehingga kualitas hidup mereka tetap terjaga sekaligus menekan risiko penularan.

“Kita tidak ingin memperbanyak temuan kasus baru, tetapi kita ingin yang sudah terdeteksi bisa segera diobati supaya kehidupannya tetap berlangsung dengan baik,” ucapnya.

Sri Puji mengaku prihatin setelah mendengar laporan dari Dinas Kesehatan mengenai adanya bayi yang terinfeksi HIV. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan upaya pencegahan dan penanganan sejak masa kehamilan.

“Saya merasa ngeri mendengar laporan dari Dinas Kesehatan ketika ada bayi yang terkena HIV. Ini menjadi perhatian serius agar penularan dari ibu ke anak dapat dicegah semaksimal mungkin,” tuturnya.

Ia berharap Raperda tentang Penanggulangan TB dan HIV/AIDS yang tengah dibahas dapat memperkuat sistem pencegahan, deteksi dini, pendampingan pasien, hingga akses pengobatan sehingga angka penularan dan kematian akibat kedua penyakit tersebut dapat ditekan di Kota Samarinda. (Adv)

Tinggalkan Balasan