AdvertorialSamarinda

Anhar Soroti Kesenjangan Pendidikan dan Dunia Kerja

×

Anhar Soroti Kesenjangan Pendidikan dan Dunia Kerja

Sebarkan artikel ini
Anhar Anggota Komisi IV DPRD Samarinda.

SAMARINDA – Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar, menyoroti persoalan yang masih dihadapi banyak lulusan SMA, SMK hingga perguruan tinggi, yakni kesulitan memasuki dunia kerja meski telah menyelesaikan pendidikan formal.

Menurutnya, berbagai lapangan pekerjaan sebenarnya tersedia untuk lulusan dengan jurusan atau kompetensi tertentu. Namun, persoalan yang muncul adalah belum adanya keterhubungan yang kuat antara dunia pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja yang ada.

Anhar menilai kondisi tersebut menjadi tantangan yang tidak hanya dihadapi daerah, tetapi juga negara secara umum. Ia mengatakan, setelah menyelesaikan pendidikan, banyak lulusan yang justru dihadapkan pada pertanyaan mengenai ke mana mereka harus bekerja.

“Misalnya kita sudah membuat sekolah yang bagus, universitas yang bagus, tetapi begitu lulus pertanyaannya justru kerja di mana. Ini yang menjadi persoalan,” ujarnya, Kamis (25/6/2026)

Ia menyebut pemerintah selama ini telah berupaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui pembangunan sarana pendidikan dan peningkatan kualitas tenaga pengajar. Namun, perhatian terhadap kesinambungan lulusan menuju dunia kerja dinilai masih perlu diperkuat.

“Negara hanya sampai membuat bangunan yang bagus, memperbaiki kualitas guru, tetapi setelah lulus mereka mencari kerja sendiri. Menurut saya ini perlu ada kajian yang lebih dalam,” katanya.

Anhar menilai evaluasi terhadap kurikulum pendidikan menjadi salah satu hal penting yang perlu dilakukan. Ia mempertanyakan apakah materi pembelajaran dan kurikulum yang diterapkan saat ini sudah benar-benar sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja yang ada, khususnya di daerah.

Menurutnya, penyusunan kurikulum semestinya mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan riil dunia kerja agar lulusan memiliki peluang yang lebih besar untuk terserap di sektor usaha maupun industri.

“Apakah kurikulum kita sudah selaras dengan kebutuhan tenaga kerja yang ada di daerah? Ini yang perlu dilihat bersama,” ungkapnya.

Untuk itu, ia mendorong adanya koordinasi yang lebih kuat antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan DPRD. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar lulusan tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Anhar berharap ke depan sistem pendidikan dapat terintegrasi dengan kebutuhan industri dan dunia usaha. Dengan begitu, siswa maupun mahasiswa memiliki jalur yang lebih jelas menuju dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.

“Kalau lowongan tenaga kerja sudah terintegrasi dengan tempat mereka belajar, maka ketika lulus mereka bisa langsung siap bekerja sesuai basis keilmuannya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kurikulum yang masih bersifat normatif perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah. Menurutnya, lulusan harus dibekali kemampuan yang relevan agar mampu bersaing di tengah perkembangan teknologi dan dinamika pasar kerja.

“Kondisi saat ini kurikulum kita masih normatif. Akibatnya banyak lulusan yang belum siap bersaing dan mengikuti kebutuhan serta perkembangan zaman,” pungkas Anhar. (Adv)

Tinggalkan Balasan