Bontang – Sore mulai turun di lapangan tenis kawasan PC VI PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim). Bunyi bola yang beradu dengan raket berpadu tawa para pemain dari berbagai usia. Di satu sisi lapangan, seorang pemain senior dengan sabar mengajarkan teknik forehand kepada anggota baru. Sementara di sisi lain, anak-anak karyawan berlarian menunggu giliran bermain.
Pemandangan itu menjadi gambaran bagaimana tenis telah berkembang menjadi lebih dari sekadar olahraga di lingkungan Pupuk Kaltim. Lapangan tenis kini menjadi ruang berkumpul lintas generasi, mempererat silaturahmi, menjaga kebugaran, sekaligus membangun budaya kebersamaan di tengah aktivitas pekerjaan.
Namun, suasana hangat tersebut lahir dari perjalanan panjang yang telah dimulai puluhan tahun silam.
Semuanya berawal dari sebuah lapangan tenis di kawasan Hotel Bintang Sintuk, Bontang. Di tempat itulah sejumlah karyawan yang memiliki hobi bermain tenis rutin berkumpul hingga akhirnya membentuk Sintuk Tennis Club (STC), cikal bakal lahirnya Pupuk Kaltim Tennis Club (PTC).
Salah seorang pembina PTC, Ngateno, mengenang bahwa saat itu hampir seluruh cabang olahraga di lingkungan perusahaan telah memiliki organisasi resmi. Hanya tenis yang masih berjalan secara informal tanpa wadah pembinaan yang terstruktur.
“Kami melihat tenis tidak cukup hanya menjadi tempat bermain. Harus ada pembinaan yang berkelanjutan agar lahir atlet-atlet muda sekaligus membangun karakter mereka melalui olahraga,” ujarnya.
Sejak STC berdiri, pembinaan mulai dilakukan secara sistematis. Keanggotaannya tidak hanya berasal dari karyawan Pupuk Kaltim, tetapi juga putra-putri karyawan hingga bibit-bibit muda potensial dari Kota Bontang.
Melalui pembinaan yang lebih terarah, STC kemudian menjalin kerja sama dengan Yayuk Basuki Tennis Academy (YBTA). Selama dua tahun, akademi yang didirikan legenda tenis Indonesia tersebut menghadirkan pelatih nasional untuk meningkatkan kualitas pembinaan atlet muda.
Menurut pembina PTC, Wawan Ari Susanto, pola pembinaan saat itu dibagi menjadi dua jalur. Pertama, kelas ekstrakurikuler bagi putra-putri karyawan sebagai sarana mengenalkan teknik dasar dan menumbuhkan kecintaan terhadap tenis sejak dini. Kedua, kelas prestasi yang dipersiapkan untuk melahirkan atlet kompetitif di tingkat regional hingga nasional.
“Pembinaan atlet muda dari masyarakat sekitar juga menjadi bagian dari komitmen perusahaan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL),” katanya.
Hasilnya pun membanggakan. Atlet binaan STC berhasil meraih berbagai prestasi pada kejuaraan nasional kelompok umur 10 dan 12 tahun. Bahkan selama beberapa tahun, mereka mendominasi berbagai turnamen tenis junior di Kalimantan Timur.
Seiring perubahan kebijakan perusahaan, program pembinaan atlet prestasi kemudian dihentikan, termasuk kerja sama dengan Yayuk Basuki Tennis Academy. Namun, bagi komunitas tenis Pupuk Kaltim, perubahan tersebut bukan akhir perjalanan.
Di bawah koordinasi Badan Pembina Olahraga (Bapor), lahirlah Pupuk Kaltim Tennis Club (PTC) dengan semangat baru melalui motto “PTC Terus Maju.”
Pembina PTC, Deplian Maherdianta, mengatakan fokus klub kemudian bergeser dari pembinaan prestasi menuju pembangunan budaya olahraga yang lebih inklusif.
“Kami ingin tenis tetap hidup sebagai sarana menjaga kesehatan sekaligus mempererat hubungan antarkaryawan dan keluarga besar Pupuk Kaltim,” ujarnya.
Transformasi semakin terasa ketika kepengurusan baru dibentuk pada awal 2023 dengan melibatkan lebih banyak generasi milenial dan Gen Z. Di bawah kepemimpinan Septian Seno Rinaldhie, PTC mengembangkan berbagai program yang lebih terbuka bagi seluruh karyawan.
Turnamen internal khusus pemula, latihan bersama, coaching clinic, fun tennis, hingga pertandingan persahabatan rutin digelar agar semakin banyak karyawan berani mencoba olahraga tenis tanpa merasa canggung.
“Arahan Direksi sangat jelas, lapangan tenis harus menjadi ruang yang hidup, menjadi tempat berolahraga, berekreasi, sekaligus mempererat hubungan antarpegawai beserta keluarga,” kata Seno.
Pendekatan tersebut berhasil mengubah wajah komunitas tenis di Pupuk Kaltim. Lapangan yang sebelumnya hanya ramai pada waktu tertentu kini dipenuhi aktivitas hampir setiap pekan. Karyawan dari berbagai unit kerja dan berbagai tingkat kemampuan aktif mengikuti latihan maupun turnamen internal.
Menurut Seno, olahraga bukan hanya soal kompetisi, tetapi juga membangun kolaborasi dan komunikasi yang pada akhirnya berdampak positif terhadap budaya kerja perusahaan.
Semangat itu semakin kuat melalui filosofi yang menjadi identitas PTC, yakni “Menang Jumawa, Kalah Bahagia.”
Bagi Wakil Ketua PTC, Budi Hermawan, jargon tersebut mengandung pesan sederhana namun mendalam: kemenangan tidak boleh melahirkan kesombongan, sementara kekalahan tidak boleh menghilangkan semangat dan kebahagiaan dalam berolahraga.
“Kami ingin setiap pertandingan selalu berakhir dengan senyuman. Yang paling penting bukan siapa yang menang, tetapi bagaimana persaudaraan tetap terjaga,” katanya.
Budaya saling mendukung yang dibangun di dalam klub kemudian berbuah prestasi. Pada Turnamen Tenis Olimpiade Pupuk Indonesia Grup 2025, PTC sukses meraih gelar juara setelah mengalahkan berbagai tim dari anak perusahaan Pupuk Indonesia.
Prestasi tersebut kembali dipertahankan pada Turnamen Tenis Olimpiade Pupuk Indonesia Grup 2026, sekaligus menegaskan konsistensi klub dalam menjaga kualitas permainan dan kekompakan tim.
“Prestasi itu lahir dari rasa memiliki yang tumbuh di antara seluruh anggota. Ketika semua saling mendukung, kemenangan datang sebagai hasil dari kerja keras bersama,” ujar Budi.
Bagi PTC, perjalanan klub bukan semata tentang trofi dan gelar juara. Lebih dari itu, tenis telah menjadi media yang menyatukan karyawan lintas generasi, melahirkan talenta baru, serta memperkuat budaya kebersamaan di lingkungan perusahaan.
Dengan semangat “PTC Terus Maju”, Pupuk Kaltim Tennis Club bertekad terus menjadi rumah bagi siapa pun yang mencintai tenis, sekaligus menjaga tradisi sportivitas, kebersamaan, dan gaya hidup sehat yang telah dibangun selama puluhan tahun.













