TENGGARONG – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Edi Damansyah, kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat. Dalam kunjungan kerja ke Kecamatan Kota Bangun Darat dan Kota Bangun pada Senin (7/4), Edi secara resmi meluncurkan tiga Posyandu Digital yang difokuskan untuk menangani persoalan stunting dan gizi balita di pedesaan.
Peresmian ini menjadi bagian dari program Kukar Idaman, yang tidak hanya membangun infrastruktur kesehatan, tapi juga mendorong pemanfaatan teknologi dalam layanan dasar. Ketiga Posyandu tersebut kini dilengkapi dengan perangkat digital untuk pencatatan data kesehatan, serta fasilitas modern yang menunjang pelayanan ibu hamil dan balita.
Transformasi Layanan: Posyandu Kini Berbasis Digital
Tiga Posyandu yang diresmikan yaitu Posyandu Berseri I di Desa Kota Bangun 1, Posyandu Pinang Merah II di Desa Loleng, dan Posyandu Belayan 1 di Desa Muhuran—seluruhnya berdiri di atas lahan seluas 54 meter persegi. Masing-masing posyandu kini telah dilengkapi dengan fasilitas berbasis digital, termasuk alat timbang modern, aplikasi pendataan balita, serta pelatihan untuk kader Posyandu agar dapat mengoperasikan teknologi baru ini.
“Posyandu sekarang bukan lagi hanya soal menimbang dan mengukur dengan alat seadanya. Kita hadirkan Posyandu Digital untuk mendukung pelayanan yang lebih akurat dan efisien,” ungkap Edi Damansyah di hadapan para kader dan warga setempat.
Kehadiran fasilitas digital ini diharapkan mampu mempercepat pengambilan keputusan terkait kondisi kesehatan balita dan ibu hamil. Dengan data yang tercatat secara real time, kader Posyandu dapat dengan cepat melaporkan kondisi yang memerlukan perhatian khusus ke puskesmas atau dinas terkait.
Fokus pada 1000 Hari Pertama Kehidupan dan Pencegahan Stunting
Dalam sambutannya, Edi Damansyah menekankan pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai masa emas tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, Posyandu Digital diarahkan sebagai pusat edukasi gizi serta pemantauan tumbuh kembang anak dan ibu hamil, terutama di wilayah pedesaan.
“Periode 1000 HPK sangat menentukan masa depan anak. Di sinilah kita harus hadir, memberikan layanan terbaik, karena momen ini tidak akan terulang,” tegasnya.
Revitalisasi Posyandu ini juga menjadi langkah strategis pemerintah daerah dalam mempercepat penurunan angka stunting. Dengan data yang akurat, serta kader yang telah mendapatkan pelatihan dan dana operasional dari anggaran desa, pelayanan pun menjadi lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Menutup kunjungannya, Edi Damansyah mengingatkan masyarakat untuk tetap aktif dalam menentukan arah pembangunan daerah melalui partisipasi pada Pemungutan Suara Ulang (PSU) tanggal 19 April 2025 mendatang.













