SAMARINDA – Kondisi Pasar Pagi Samarinda yang belum ramai kembali mendorong DPRD Kota Samarinda menyoroti kesesuaian desain bangunan dengan kebiasaan masyarakat dalam berbelanja.
Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, menilai persoalan tersebut perlu dilihat dari sisi yang lebih luas. Menurutnya, karakter konsumen menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhitungkan ketika menentukan pola pengelolaan sebuah kawasan perdagangan.
Ia menjelaskan, masyarakat yang terbiasa berbelanja di pasar tradisional cenderung menginginkan akses yang mudah dan praktis. Sementara itu, pola ruang di gedung Pasar Pagi yang bertingkat dan modern dinilai belum tentu sesuai dengan kebiasaan tersebut.
“Kalau kita lihat dengan model bangunan itu kan nggak cocok sebenarnya,” kata Iswandi, Selasa (25/8/2026)
Menurutnya, ketidaksesuaian antara desain fisik dan perilaku konsumen dapat berpengaruh terhadap minat masyarakat untuk datang. Karena itu, pemerintah perlu melihat kembali bagaimana ruang-ruang perdagangan di dalam gedung dapat disesuaikan dengan pola aktivitas masyarakat.
Ia membuka kemungkinan adanya pengaturan ulang sejumlah zona perdagangan. Area tertentu dapat diarahkan untuk menjual komoditas atau produk yang lebih spesifik sehingga memiliki daya tarik dan tujuan kunjungan yang jelas.
Namun, Iswandi menilai perubahan tersebut harus didahului kajian. Pemerintah perlu mengetahui jenis produk yang paling dibutuhkan masyarakat, pola kunjungan konsumen, hingga karakter pedagang yang akan menempati masing-masing area.
Di sisi lain, kondisi ekonomi yang sedang lesu juga disebut ikut memengaruhi aktivitas perdagangan. Meski demikian, Iswandi tidak ingin faktor tersebut dijadikan alasan tunggal atas sepinya Pasar Pagi.
“Pasar sudah dibangun mahal-mahal tapi ekonomi tidak bergerak. Ya memang di luar kondisi ekonomi juga lagi lesu. Tapi kan itu minimal, bukan suatu kendala lah,” ujarnya.
Menurutnya, Pasar Pagi membutuhkan pendekatan yang mampu menggabungkan fungsi pasar dengan karakter masyarakat Samarinda. Bangunan yang modern harus tetap memberikan kemudahan bagi konsumen, bukan justru membuat pola berbelanja menjadi lebih sulit.
DPRD Samarinda pun mendorong agar evaluasi tidak hanya dilakukan dari sisi infrastruktur. Kajian terhadap perilaku konsumen, kebutuhan pedagang, akses kawasan dan potensi ekonomi perlu menjadi bagian dari pembahasan.
Dengan pendekatan tersebut, Pasar Pagi diharapkan tidak hanya menjadi bangunan yang secara fisik terlihat modern, tetapi juga kembali hidup sebagai ruang perdagangan yang ramai dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. (Adv)













