SAMARINDA – Kota Samarinda dinilai memiliki modal pariwisata yang cukup beragam, tetapi belum sepenuhnya mampu diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi baru. Pemerintah daerah didorong menyusun pola pengembangan wisata yang lebih terintegrasi agar potensi budaya, kawasan alam, hingga sungai dapat memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.
Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Viktor Yuan, mengatakan pengembangan pariwisata seharusnya tidak berhenti pada keberadaan destinasi. Dibutuhkan pembenahan menyeluruh, mulai dari akses dan infrastruktur, promosi, pengelolaan kawasan hingga keterlibatan masyarakat dan dunia usaha.
Menurutnya, sejumlah destinasi yang selama ini telah menjadi bagian dari wajah pariwisata Samarinda masih mempunyai peluang untuk dikembangkan. Desa Budaya Pampang, Kampung Ketupat dan kawasan Bukit Steling, misalnya, dapat diperkuat sehingga kunjungan wisatawan turut menggerakkan aktivitas ekonomi di sekitarnya.
“Potensinya sebenarnya ada. Tinggal bagaimana kita mengelola dan menguatkannya, baik dari sisi infrastruktur, promosi, maupun kolaborasi,” ujar Viktor, Kamis (20/8/2026).
Politikus Partai Demokrat tersebut menilai pariwisata juga memiliki fungsi strategis dalam menjaga identitas daerah. Pengembangan destinasi berbasis budaya dan karakter lokal, kata dia, dapat berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan pendapatan masyarakat.
Salah satu potensi yang menurutnya perlu mendapat perhatian lebih besar adalah Sungai Karang Mumus (SKM). Sungai yang membelah kawasan Samarinda itu selama ini lebih sering dikaitkan dengan persoalan lingkungan dan banjir. Viktor melihat sudut pandang tersebut perlu diperluas dengan menjadikan sungai sebagai bagian dari pengembangan wisata kota.
Ia menilai SKM memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata air. Salah satu gagasan yang dapat dikaji ialah wisata arung sungai dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan, kualitas lingkungan dan kesiapan kawasan.
“Selama ini sungai lebih banyak kita lihat dari persoalan lingkungannya. Padahal bisa dikembangkan jadi wisata arung sungai. Ini bisa menjadi daya tarik baru,” ungkapnya.
Menurut Viktor, gagasan tersebut sekaligus dapat memperkuat karakter Samarinda sebagai kota yang memiliki hubungan erat dengan sungai. Namun, pengembangan wisata SKM tidak bisa dilakukan secara instan. Pemerintah perlu memastikan persoalan lingkungan dan penataan kawasan diselesaikan terlebih dahulu sebelum menjadikannya sebagai destinasi wisata.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan sektor pariwisata tidak bisa hanya mengandalkan APBD dan program pemerintah. Pelaku UMKM, komunitas, masyarakat serta sektor swasta perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga pengelolaan destinasi.
“Harus ada sinergi juga dari berbagai pihak, masyarakat, sektor swasta,” tegasnya.
Viktor berharap pemerintah mulai melihat pariwisata sebagai sektor ekonomi yang membutuhkan investasi dan strategi jangka panjang. Jika dikelola secara konsisten, pengembangan destinasi wisata dinilai dapat menciptakan efek berantai terhadap UMKM, ekonomi kreatif, jasa transportasi hingga lapangan pekerjaan.
Dengan pengelolaan yang lebih serius, ia optimistis Samarinda tidak hanya menjadi kota transit, tetapi juga memiliki destinasi yang mampu menarik masyarakat dari luar daerah sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi warga lokal.
“Jadi bukan tidak mungkin sektor ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi baru bagi Samarinda,” pungkasnya. (Adv)













