Opini

Menyusuri Sejarah Kain Tenun Samarinda: Warisan Budaya yang Mencerminkan Identitas Lokal dan Menginspirasi Generasi Masa Depan

×

Menyusuri Sejarah Kain Tenun Samarinda: Warisan Budaya yang Mencerminkan Identitas Lokal dan Menginspirasi Generasi Masa Depan

Sebarkan artikel ini

Penulis: Syakila Nur Fadilah, Ophioci Fuerte Lambu, Icha Fitriarahma, Muhammad Fateh Nur Maulidana (Kader Departement Kajian & Penelitian UKM KPM FISIP UNMUL)

Samarinda-Kain tenun adalah salah satu warisan budaya yang kaya dan berharga di Indonesia yang menunjukkan keragaman etnis dan tradisi yang ada di setiap daerah. Kain tenun Samarinda memiliki tempat yang istimewa di antara berbagai jenis kerajinan budaya yang ada, bukan hanya sebagai produk tekstil tetapi juga sebagai simbol identitas dan nilai-nilai luhur masyarakat. Sejarah panjang kain tenun di Indonesia, yang berlangsung sejak ribuan tahun lalu, menunjukkan betapa pentingnya kerajinan ini untuk kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat. Tradisi tenun Samarinda, yang merupakan salah satu kota di Kalimantan Timur, dipengaruhi oleh perantauan suku Bugis dari Sulawesi Selatan. Tradisi dan budaya menenun yang dibawa oleh perantauan ini menjadi ciri khas kain tenun Samarinda.

Mengadopsi dan melestarikan tradisi ini, terutama di masyarakat Samarinda Seberang, telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari mereka. Namun, minat terhadap kerajinan tenun mulai menurun seiring dengan waktu dan perubahan pola pikir generasi muda. Ini menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya warisan budaya ini. Sangat penting untuk melakukan upaya untuk melestarikan dan mempromosikan kain tenun Samarinda agar tetap relevan dan diminati oleh generasi masa depan di tengah tantangan modernisasi dan globalisasi, seperti kurangnya inovasi dalam desain, minat yang rendah dari generasi muda, dan persaingan dengan produk tekstil modern yang lebih murah.

Diharapkan generasi muda terlibat aktif dalam pelestarian dan pengembangan kain tenun Samarinda melalui pelatihan, workshop, dan kolaborasi dengan desainer. Ini akan memungkinkan warisan budaya ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dalam lingkungan kontemporer. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mempelajari sejarah kain tenun Samarinda, proses pembuatan, kesulitan yang dihadapi, dan peran generasi muda dalam melestarikan kain tenun.

Sejarah Kain Tenun sebagai Kerajinan Budaya Indonesia

Indonesia adalah negara dengan banyak kerajinan budaya yang selalu dilestarikan dari pendahulu – pendahulu hingga generasi sekarang, kerajinan budaya di Indonesia menjadi ciri khas bagi nusantara kita. Kerajinan budaya Indonesia berupa batik, wayang kulit, songket, anyaman – anyaman, tenun, dan lain – lain. Kerajinan – kerajinan ini ada beberapa yang terpengaruh budaya lain dan ada yang tetap mempertahankan nilai – nilai budaya leluhur itu sendiri. Khususnya untuk kerajinan kain tenun nusantara.  Kain tenun bukan merupakan kerajinan yang lahir dari tanah nusantara kita tapi Indonesia sendiri merupakan negara penghasil tenunan terbesar di dunia dalam hal keanekaragaman motif dan hiasan. Keanekaragaman dari motif kain tenun nusantara sendiri datang dari pengaruh unsur – unsur asing yang datang dari perdagangan – perdagangan dengan dunia luar. Indonesia sendiri kepandaian bertenun sudah dikenal sejak beberapa abad sebelum masehi. Kain tenun nusantara dahulu sering dikaitkan dengan aspek – aspek yang sakral seperti keagamaan,upacara adat, perkawinan, ritual kelahiran, dan kematian.

Tenun pada masa lampau diproduksi dengan menggunakan alat dan bahan tenun sederhana yang terbuat dari kayu dan serat alam, seperti kapas, daun pandan, serat kelapa, serat pandan, dan rami. Peninggalan – peninggalan tentang tenun nusantara sayangnya terbatas dan tidak terdokumentasi secara lengkap dan luas. Namun, terdapat peninggalan benda – benda prasejarah yang ditemukan seperti tenunan, alat untuk memintal, dan bahan yang terlihat jelas adanya tenunan pada kain yang terbuat dari kapas. Seperti hal nya peninggalan yang ditemukan di situs arkeologi Gua Harimau, Sumatera Selatan. Kain yang terbuat dari serat pohon pinang yang diperkirakan berasal dari 3.000 tahun yang lalu. Peninggalan – peninggalan ini membuktikan bahwa kain tenun sudah menjadi darah daging dari nusantara kita, motif – motif yang dibuat oleh para pendahulu tidak hanya motif belaka. Di dalam motif yang dibuat terdapat nilai – nilai luhur sebagai wujud dari budaya masyarakat Indonesia pada masa lampau. Profesionalitas dari para pendahulu seperti teknik dalam menenun, kerumitan dalam menenun, pewarnaan yang mengedepankan makna, alat dan bahan khusus telah menjadi faktor penting dalam karya tenun nusantara yang berdampak terhadap eksistensi kain tenun nusantara ke pengrajin – pengrajin mancanegara.

Peran Suku Bugis dalam Perkembangan Kain Tenun di Samarinda Seberang

Sarung tenun Samarinda ini sebenarnya adalah budaya asli dari suku Bugis, Wajo sengkang, Sulawesi Selatan. Masyarakat Bugis melakukan perantauan dari Sulawesi Selatan ke Samarinda dan menularkan kerajinan sarung ini terhadap masyarakat lokal. Samarinda Sebrang menjadi salah satu kota yang menjadi lahirnya sarung tenun Samarinda yang kita kenal sampai sekarang. Samarinda seberang sendiri akhirnya dikembangkan sebagai daerah penghasil sarung tenun tertua dan pelopor dari sarung Samarinda. Pada hakikatnya para perantau yang berlabuh ke Samarinda sudah sering dan menjadi kegiatan sehari – hari mereka untuk kegiatan menenun kain untuk dijadikan sarung. Sekarang ini, hampir setiap rumah di daerah Samarinda Seberang mempunyai alat – alat tradisional mereka untuk menenun kain yang terbuat dari kayu dan hampir setiap hari ibu – ibu rumah tangga sibuk dalam  menggerakkan alat tenun dengan kaki dan tangan mereka. Mereka menganggap ini bukan pekerjaan, melainkan sudah menjadi keseharian mereka dalam berkehidupan dan bermasyarakat di daerah Samarinda Seberang.

Datang nya suku Bugis Wajo Sengkang, Sulawesi Selatan membawa angin segar dan keuntungan bagi daerah Samarinda Seberang karena dari suku inilah lahir lapangan – lapanga pekerjaan bagi ibu – ibu rumah tangga maupun generasi muda yang ingin memperdalam kebudayaan Samarinda. Sejak abad ke 17, Samarinda Seberang sudah menjadi terkenal sebagai daerah penghasil tenun Samarinda. Samarinda Seberang didirikan pada tanggal 20 April 1708 oleh seorang bangsawan Bugis dari kerajaan Wajo Sengkang, Sulawesi Selatan yang bernama La Mohang Daeng Mangkona dengan gelar “Pua Ado”. Dari masa ke masa pengrajin – pengrajin tidak hanya dari suku Bugis yang ada di Samarinda Seberang, melainkan warga Samarinda dengan berbagai suku juga menjadi pengrajin dari sarung tenun Samarinda. Namun, pada 1980-an produksi sarung tenun Samarinda mengalami kemerosotan yang berdampak terhadap pengrajin yang mau tidak mau mengubah nasib untuk rehat dari dunia sarung tenun karena usaha sarung tenun Samarinda dinilai tak menjanjikan lagi. Suku Bugis membawa budaya baru terhadap kebudayaan Samarinda dan membuat Samarinda dikenal oleh beberapa bagian dunia luar, jangan sampai budaya ini luntur begitu saja karena tidak ada generasi penerus untuk melanjutkan pengrajin – pengrajin sarung tenun.

Proses Pembuatan dan Inovasi dan Tantangan dalam Produksi Kain Tenun Samarinda

Kain tenun Samarinda dibuat secara manual melalui tahapan-tahapan yang membutuhkan ketelitian tinggi. Adapun bahan utama yang digunakan ialah benang dan pewarna. Benang yang digunakan terdiri dari dua jenis, yaitu benang sutera warm silk dan benang sutera impor spoon silk. Salah satu merek spoon silk yang sering digunakan ialah red blossom yang berasal dari China,  kemudian dibeli oleh importir dari Surabaya. Untuk pewarnaan kain tenun Samarinda, para pengrajin awalnya menggunakan pewarna bermerek Direx. Namun, mereka menyadari bahwa Direx mudah luntur jika proses pencelupannya tidak tepat dan akhirnya beralih ke pewarna merek Remasol yang memiliki kualitas lebih baik dan lebih tahan lama. Kain tenun Samarinda sendiri memiliki ciri khas dalam warna dan coraknya, yaitu didominasi oleh warna-warna tua dan kontras seperti ungu, merah, biru, hitam, jingga, dan  kuning.

Dalam proses pembuatan kain tenun Samarinda, para pengrajin menggunakan alat tenun tradisional yang sepenuhnya terbuat dari kayu, terutama kayu ulin, tanpa mengandalkan mesin modern. Ada dua jenis alat yang digunakan, yaitu Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dan gedogan. Alat Tenun Bukan Mesin atau yang biasa kita sebut ATBM, adalah alat tenun berbahan kayu yang bekerja dengan sistem torak dan tali. Ketika salah satu bagian alat digerakkan, bagian lainnya akan ikut bergerak secara otomatis. Alat ini digunakan secara manual menggunakan tangan dan kaki, dengan penenun duduk di kursi selama bekerja. Salah satu keunggulan dari ATBM ini adalah kecepatan alat ini memproduksi kain tenun. Dalam waktu dua hari, ATBM bisa menghasilkan satu sarung Samarinda. Namun, hasil tenunnya cenderung kurang halus dibandingkan dengan gedogan, dan desain motif yang bisa dibuat juga lebih terbatas karena keterbatasan teknis alat ini.

Sementara itu, gedogan adalah alat tenun yang proses penggunaannya dikerjakan secara manual dengan tangan. Penenun akan duduk di lantai dengan kaki dijulurkan ke depan, kemudian gedogan diletakkan di atas kaki mereka. Alat ini tidak berasal dari Samarinda, melainkan dibawa oleh pengrajin dari Sulawesi. Adapun keturunan-keturunan mereka sekarang yang menetap di sekitar rumah Wa’ruda di Gang Pertenunan. Gedogan sendiri memiliki keunggulan dalam menghasilkan kain yang lebih halus dan rapat. Selain itu, penenun yang menggunakan gedogan lebih bebas dalam menciptakan motif yang beragam. Namun, proses pengerjaannya jauh lebih lama dibandingkan dengan ATBM. dibutuhkan sekitar 15 hari untuk menyelesaikan satu sarung dengan catatan penenun bekerja 8 jam per hari. Umumnya, penenun yang masih menggunakan gedogan adalah perempuan yang sudah berusia lanjut, karena mereka lebih nyaman menenun dengan cara duduk santai di lantai.

Saat ini, gedogan menjadi alat tenun tradisional yang sudah jarang digunakan dan lebih sering dipajang sebagai koleksi atau untuk pameran budaya. Sebagian besar pengrajin kini lebih suka menggunakan ATBM karena mampu meningkatkan produksi dalam waktu yang lebih singkat. Meskipun begitu, tak dapat dipungkiri bahwa kehalusan dan esensi kain yang dihasilkan dari gedogan tetap memiliki daya tarik tersendiri bagi para pecinta kain tenun tradisional. Kain tenun Samarinda merupakan warisan budaya yang banyak akan nilai seni dan tradisi. Akan tetapi, tak dapat dipungkiri bahwa inovasi dalam proses pembuatannya masih menghadapi tantangan yang cukup besar, terutama dalam alat teknologi. Alat tenun yang digunakan masih tradisional, sehingga sulit untuk melakukan terobosan signifikan dalam hal efisiensi dan produktivitas. Inovasi yang bisa dan sudah dilakukan pada kain tenun Samarinda adalah penambahan motif saja.

Harga kain tenun Samarinda bergantung pada material, kompleksitas motif, dan lama waktu pembuatan. Kain tenun berbahan sutra atau kapas cenderung memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan bahan sintetis. Selain itu, kain dengan motif tradisional yang rumit dan memiliki cerita budaya khas biasanya dijual dengan harga lebih tinggi karena nilai estetik dan historisnya. Di pasaran lokal, kain tenun Samarinda bisa dijual mulai dari Rp200.000 untuk produk sederhana hingga lebih dari Rp800.000 untuk kain berkualitas tinggi dan bermotif unik. Variasi harga ini menunjukkan keunikan masing-masing kain tenun yang dihasilkan. Proses pembuatan kain tenun Samarinda membutuhkan kesabaran dan keahlian tinggi. Untuk satu kain tenun berukuran standar, seorang perajin biasanya memerlukan waktu sekitar 2 hingga 4 minggu, tergantung pada tingkat kerumitan motif dan bahan yang digunakan. Dalam satu bulan, seorang perajin tradisional biasanya dapat menghasilkan 2 hingga 5 kain, bergantung pada tingkat kesulitan desainnya. Jika menggunakan alat bantu yang lebih modern, jumlah kain yang dihasilkan dapat meningkat, tetapi sering kali mengurangi sentuhan personal dan keaslian yang menjadi ciri khas kain tenun Samarinda.

Upah yang diterima oleh para pengrajin pun sangat dipengaruhi oleh kesulitan bentuk motif dan jumlah warna yang digunakan. Semakin rumit motif yang dikerjakan dan semakin banyak variasi warna yang diaplikasikan, maka upah yang diperoleh juga akan semakin tinggi. Selain itu, motif yang dihasilkan juga sangat bergantung pada selera konsumen, yang terus berkembang seiring dengan tren fashion dan permintaan pasar.

Minat Generasi Muda terhadap Peningkatan Relevansi Kain Tenun di Era Modern

Peran generasi muda dalam mempertahankan tradisi menenun sangatlah penting. Namun, pada kenyataannya, tidak banyak dari mereka yang masih tertarik untuk berkecimpung di dunia ini. Perkembangan zaman dan perubahan pola pikir membuat banyak anak muda lebih memilih untuk bekerja di lingkungan yang dianggap nyaman dan modern. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran bagi para pengrajin-pengrajin kain tenun Samarinda karena tanpa adanya regenerasi, budaya ini bisa perlahan hilang oleh zaman. Salah satu alasan mengapa anak muda kurang tertarik dengan budaya menenun adalah minimnya inovasi dan modifikasi dalam desainnya. Perlu ada upaya untuk menarik perhatian mereka, misalnya mealui pelatihan atau workshop yang bisa mengenalkan mereka pada dunia tenun dengan cara yang lebih menarik. Dengan ini, bisa saja ada banyak anak muda yang mulai melirik kain tenun Samarinda. Pelatihan yang fokus pada anak muda bisa menjadi langkah awal agar mereka lebih memahami dan menghargai warisan budaya ini. Generasi muda memainkan peran penting dalam melestarikan kain tenun Samarinda, meski tantangan tetap ada. Banyak anak muda yang aktif mempromosikan kain ini melalui media sosial, mengorganisir workshop, atau mengolah kain tenun menjadi produk fashion modern seperti tas dan jaket. Namun, sebagian besar anak muda masih kurang tertarik karena menganggap kain tenun kurang relevan dengan gaya hidup saat ini. Rendahnya pelatihan formal tentang seni menenun juga menjadi faktor yang membuat mereka tidak familiar dengan nilai historis dan seni kain tenun Samarinda.

Selain itu, peran pemerintah juga tak luput dalam menjaga keberlangsungan tradisi menenun ini. Pemerintah bisa berkontribusi dalam banyak hal, seperti memberikan bantuan modal bagi para pengrajin, menyediakan pelatihan menenun bagi masyarakat, ikut membantu pemasaran produk tenun agar lebih dikenal di pasar yang lebih luas, membuat festival budaya, dan bekerja sama dengan industri fashion. Dengan cara-cara ini, kain tenun tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya, namun juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Jika generasi muda menyadari bahwa menenun memiliki prospek kerja yang menjanjikan, minat mereka untuk terlibat dalam pelestariannya akan semakin meningkat.

Kain tenun Samarinda dipromosikan melalui berbagai strategi, seperti pameran kebudayaan, pelatihan seni menenun, dan kolaborasi dengan desainer untuk mengintegrasikan kain ini ke dalam gaya busana modern. Media sosial juga menjadi sarana utama dalam memperkenalkan keindahan kain tenun Samarinda, melalui foto, video, dan kisah-kisah tentang proses pembuatannya. Namun, berbagai kendala masih dihadapi, termasuk kurangnya akses perajin ke pasar global, rendahnya literasi digital di kalangan perajin tradisional, serta persaingan dengan tekstil modern yang lebih murah dan cepat diproduksi. Selain itu, biaya produksi kain tenun yang tinggi sering menjadi penghalang utama dalam mencapai daya saing di pasar yang lebih luas.

Selain itu, peran pemerintah juga tak luput dalam menjaga keberlangsungan tradisi menenun ini. Pemerintah bisa berkontribusi dalam banyak hal, seperti memberikan bantuan modal bagi para pengrajin, menyediakan pelatihan menenun bagi masyarakat, ikut membantu pemasaran produk tenun agar lebih dikenal di pasar yang lebih luas, membuat festival budaya, dan bekerja sama dengan industri fashion. Dengan cara-cara ini, kain tenun tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya, namun juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Jika generasi muda menyadari bahwa menenun memiliki prospek kerja yang menjanjikan, minat mereka untuk terlibat dalam pelestariannya akan semakin meningkat.

Generasi muda memainkan peran penting dalam melestarikan kain tenun Samarinda, meski tantangan tetap ada. Banyak anak muda yang aktif mempromosikan kain ini melalui media sosial, mengorganisir workshop, atau mengolah kain tenun menjadi produk fashion modern seperti tas dan jaket. Namun, sebagian besar anak muda masih kurang tertarik karena menganggap kain tenun kurang relevan dengan gaya hidup saat ini. Rendahnya pelatihan formal tentang seni menenun juga menjadi faktor yang membuat mereka tidak familiar dengan nilai historis dan seni kain tenun Samarinda.

Kesimpulan

Kain tenun Samarinda, yang memiliki nilai seni dan tradisi yang kaya, mencerminkan identitas masyarakat Indonesia. Proses pembuatan kain tenun yang dilakukan dengan ketelitian tinggi secara manual menunjukkan dedikasi dan keahlian para pengrajin. Meskipun kain tenun Samarinda unik dan memiliki nilai estetika yang tinggi, semakin sulit untuk menjaganya, terutama karena perubahan zaman dan minat generasi muda yang cenderung berkurang. Dengan membawa tradisi dan teknik menenun mereka, suku Bugis memainkan peran penting dalam pengembangan kain tenun di Samarinda Seberang. Budaya ini mungkin hilang tanpa regenerasi dan minat dari generasi muda.

 

Oleh karena itu, sangat penting untuk berpikir kreatif untuk menarik perhatian generasi muda. Ini dapat dicapai melalui pelatihan, workshop, dan bekerja sama dengan desainer untuk memasukkan kain tenun ke dalam mode kontemporer.

Semua orang, termasuk generasi muda, dan pemerintah, bertanggung jawab untuk melestarikan kain tenun Samarinda. Dengan menjaga dan menghargai warisan budaya ini, kita tidak hanya melestarikan identitas bangsa kita, tetapi juga memastikan bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap helai kain tenun akan tetap hidup dan berkembang di masa depan. Upaya kolaboratif ini akan membantu memperkuat jati diri budaya Samarinda dan menjadikan kain tenun Samarinda sebagai bagian penting dari kehidupan modern.

 

“Budaya adalah napas kehidupan suatu bangsa. Tanpa pelestarian, kita kehilangan identitas dan makna dari perjalanan kita.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *